Info Bisnis

Kemendag Hadirkan Program S’RASA di Trade Expo Indonesia 2026 untuk Promosi Rempah Nusantara

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menghadirkan Program Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai langkah memperkenalkan kekayaan kuliner dan rempah Nusantara kepada pasar internasional. Pameran perdagangan yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, ini menjadi kesempatan bagi pelaku Bisnis makanan, bumbu, dan rempah untuk memperluas jaringan perdagangan. Melalui demonstrasi memasak, pengenalan produk, serta pertemuan dengan calon pembeli mancanegara, program S’RASA dirancang untuk menghubungkan identitas kuliner Indonesia dengan peluang ekspor. Inisiatif ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat daya saing produk nasional.

Kemendag Perkenalkan Program S’RASA dalam Trade Expo Indonesia 2026

Kemendag membawa Program Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA ke pameran ekspor unggulan Trade Expo Indonesia ke-41. Kegiatan tersebut berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Pelaksanaan promosi kuliner tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan ekspor melalui keunikan cita rasa Nusantara. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak pengusaha sektor pangan, pembeli internasional, media, dan masyarakat untuk menyaksikan kegiatan di Paviliun S’RASA yang berada di Hall 3A-2. Melalui fasilitas tersebut, calon pembeli memperoleh pengalaman mengenali cita rasa lokal.

Gerakan promosi kuliner Nusantara ini tidak berhenti pada kegiatan memperlihatkan masakan Indonesia. Konsep yang dikembangkan juga menghubungkan makanan dengan bahan bakunya. Berkat pendekatan promosi yang terintegrasi, calon pembeli dapat memahami potensi produk Indonesia. Strategi pemerintah ini diharapkan memperluas akses produk lokal ke pasar mancanegara. Namun, terbentuknya permintaan berkelanjutan membutuhkan kesepakatan bisnis nyata. Oleh karena itu, komunikasi perdagangan yang berkelanjutan menjadi bagian penting dari kegiatan S’RASA.

Promosi Rempah Indonesia Melalui Pengalaman Memasak dan Mencicipi Hidangan

Salah satu kegiatan unggulan S’RASA adalah pertunjukan pengolahan makanan yang menampilkan enam sajian khas Tanah Air. Pilihan makanan dalam kegiatan tersebut meliputi rendang, sate ayam, nasi goreng, gado-gado, mi bakso, dan soto ayam. Berbagai hidangan pilihan ini memperlihatkan variasi tradisi memasak Nusantara. Penggunaan rempah dan bumbu dalam masing-masing sajian menjadi media penghubung antara produk pangan dan pasar internasional. Lewat pengalaman kuliner yang interaktif, pengunjung dapat melihat hubungan antara cita rasa dan bahan baku. Metode promosi tersebut juga memberikan pengalaman yang lebih konkret.

Rangkaian pengenalan hidangan Nusantara dipersiapkan bersama empat koki ternama Indonesia, yakni Chef Norman Ismail, Chef Sisca Christo, Chef Vindex Tengker, dan Chef Ragil Imam Wibowo. Partisipasi tenaga kuliner profesional diharapkan memperkuat pengalaman pengunjung. Agenda kuliner itu juga dipersiapkan untuk dihadiri sejumlah pejabat dan pemimpin lembaga terkait, termasuk Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. Berkat keterlibatan sejumlah pemangku kepentingan, promosi makanan Indonesia dapat dikembangkan sebagai aktivitas pengenalan pasar. Pengalaman menyaksikan pengolahan kuliner dapat membantu pengunjung memahami potensi bahan pangan lokal.

Peran Rempah Nusantara dalam Memperkenalkan Identitas Kuliner Indonesia

Bumbu tradisional Indonesia memiliki nilai budaya yang kuat dalam tradisi pangan Indonesia. Aneka bahan aromatik seperti jahe, kunyit, lengkuas, ketumbar, dan lada memberikan karakter rasa pada aneka hidangan. Keragaman penggunaan rempah dapat membantu memperkenalkan kekhasan kuliner Indonesia. Melalui program S’RASA, fungsi rempah dapat diperlihatkan melalui hidangan nyata. Cara promosi yang menghubungkan bahan dan masakan memberikan nilai komunikasi tambahan bagi produk. Dalam perspektif perdagangan, penjelasan tentang penggunaan rempah dapat membantu calon pembeli memahami manfaat produk.

Di samping menonjolkan kekayaan kuliner, pengenalan bahan pangan dapat mendukung inovasi usaha. Produsen pangan dapat memperkenalkan bahan yang telah dikemas sesuai kebutuhan pasar. Ragam bentuk produk ini perlu mempertimbangkan karakter industri tujuan. Sebagai contoh, pembeli komersial mungkin mengutamakan standar mutu yang seragam. Sementara itu, pembeli rumah tangga dapat mengutamakan kemudahan penyimpanan. Keragaman tujuan penggunaan menunjukkan bahwa strategi penjualan harus disesuaikan dengan segmen. Dengan persiapan yang tepat, produk nasional memiliki dasar pemasaran yang lebih kuat.

Penjajakan Perdagangan Rempah dan Kuliner dengan Mitra Mancanegara

Di samping menghadirkan pengalaman kuliner, Paviliun S’RASA memfasilitasi pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli. Agenda perdagangan ini ditujukan untuk memperluas peluang kerja sama dalam industri kuliner. Melalui pertemuan langsung, produsen dapat memperkenalkan kemampuan pasok. Pembeli dari mancanegara juga dapat menanyakan persyaratan kualitas. Interaksi seperti ini menjadi tahap awal untuk memahami peluang transaksi. Namun, komunikasi awal tidak menjamin keberhasilan ekspor. Pemenuhan persyaratan pembeli tetap menjadi faktor penentu hasil perdagangan.

Melalui rencana kerja sama pada TEI 2026, Kemendag juga mengumumkan agenda penandatanganan 13 Nota Kesepahaman dengan mitra Bisnis dari lima negara, yaitu Belanda, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Rencana kerja sama lintas negara itu diharapkan mendorong perluasan pasar pangan Indonesia. MoU dalam hubungan perdagangan merupakan langkah yang dapat mendukung tindak lanjut komersial, tetapi tidak selalu setara dengan kontrak penjualan. Dampak terhadap peningkatan ekspor masih memerlukan pemantauan lebih lanjut. Dengan memahami perbedaan tersebut, perkembangan program dapat dilihat lebih objektif.

Strategi Memperluas Pasar Rempah Nusantara melalui Kolaborasi Perdagangan

Partisipasi Program Rasa Rempah Indonesia pada TEI ke-41 dapat mendukung pengenalan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Pengusaha produk rempah memiliki ruang untuk memahami persyaratan pasar tujuan. Dalam perdagangan internasional, kesesuaian spesifikasi barang menjadi aspek penting bagi calon pembeli. Persyaratan keamanan pangan juga perlu diperiksa sesuai negara tujuan. Interaksi dengan pembeli internasional dapat menjadi sarana mengevaluasi kesiapan ekspor. Bagi pelaku Bisnis skala kecil, pemahaman standar pembeli serta kemampuan pasok perlu diperhatikan sebelum menerima pesanan besar.

Kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha juga memperlihatkan keterlibatan sektor swasta dalam program. Rangkaian agenda S’RASA mendapat dukungan dari sejumlah sponsor dan mitra, antara lain DBFoods, Koperasi Wanita Ikaboga, Mahora-hora, Enak Jaya Makmur atau Enak Eco, Rinnai Indonesia, Unilever melalui Kecap Bango, Bamboe Indonesia, Garuda Indonesia, dan Master Bagasi. Partisipasi pelaku Bisnis dari bidang berbeda mencerminkan pendekatan promosi yang melibatkan berbagai pihak. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi menekankan bahwa Paviliun S’RASA menggabungkan pengalaman kuliner dengan interaksi perdagangan. Konsep tersebut memungkinkan pengunjung melihat, mencicipi, dan mengenali produk Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, identitas budaya dapat diperkenalkan bersama potensi perdagangan.

Rangkuman Peluang Ekspor Kuliner Indonesia Melalui TEI 2026

Partisipasi program promosi kuliner Nusantara pada pameran perdagangan internasional menjadi strategi mendukung promosi bumbu dan rempah Indonesia. Lewat pengalaman kuliner secara langsung, pelaku industri internasional berkesempatan memahami karakter makanan Nusantara. Pertemuan antara produsen dan buyer serta rencana kerja sama internasional turut melengkapi tujuan promosi tersebut. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan tindak lanjut. Kemampuan memenuhi permintaan pembeli akan berpengaruh terhadap keberlanjutan hubungan usaha.

Dalam pengembangan selanjutnya, kolaborasi pemerintah dan pelaku Bisnis perlu memperhatikan kebutuhan perdagangan yang berkelanjutan. Warisan cita rasa kuliner nasional dapat membantu membedakan produk nasional di pasar global, selama memenuhi kebutuhan konsumen dan aturan pasar tujuan. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, S’RASA berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi industri kuliner. Bagaimana pendapat Anda mengenai kehadiran S’RASA dalam TEI 2026? Mari berbagi pandangan melalui kolom komentar agar pembahasan mengenai ekspor kuliner Indonesia semakin bermanfaat.

Related Articles

Back to top button